Atom

Saturday, December 29, 2012

PELAJARAN HIDUP 1


Di minggu ini banyak pelajaran kehidupan yang saya pelajari dari 2 kejadiaan yang terjadi di depan mata saya. Kejadian ini terjadi tepatnya di kampung kecil, kampung tercinta, kampung kelahiran saya dan terjadi di hari ini dan kemarin..


Hmm... hati saya benar-benar merasa iba dan sedih melihat dinamika hidup ini. Saya akan menulis salah satunya di postingan ini, sekedar pengingat untuk saya dan agar menjadi pelajaran bagi kita semua maklum saya orang yang pelupa sekeras apapun saya mencoba mengingat sesuatu yang telah lalu dan usang dalam hidupku, harus ku akui aku juara 1 dari belakang jika itu berhubungan dengan ingatan. Setelah saya pikir-pikir hanya kejadian yang memalukan yang pernah saya lakukan yang biasa teringat di kepalaku ini,,,,
Arghhhh... seandainya bisa memilih aku bakal mengbuang jauh-jauh ingatan-ingatan memalukan itu dan menggantinya dengan ingatan bahagia bahkan aku lebih memilih ingatan sedih soalnya ingatan memalukan membuatku selalu susah tidur bahkan tidak bisa tidur semalaman suntuk kalau saya mengingatnya lagi, apa lagi kalau saya bertemu dengan orang-orang yang bersangkutan sedangkan kalau kejadian sedih aku bisa mengontrol pikiranku, atau dengan marah dan nangis bebannya bisa berkurang kalau malu ??? saya salut deh dengan orang yang tak tahu malu bisa-bisanya pikiran mereka tidak terganggu....

Baiklah,  kembali ke laptop maksudnya kisah utamanya....
Kisah Ini tentang sebuah keluarga, sejujurnya saya tidak bisa ceritakan selengkapnya bahkan intinya saya takut untuk bercerita. Kalau cerita mengenai keluarga ini dikampungku sudah menjadi rahasia umum, jika anda mendengar ceritanya secara utuh bahkan ini lebih dramatis dibandingkan sinetron dengan tema yang hampir sama kalau disinetronkan episodenya mungkin lebih dari seribu episode jika kisahnya diungkap dari anak pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima, keenam dan bahkan sampai cucunya. Narasumber saya saja menceritakan kepada saya selama  2 malam baru bisa tuntas, itupun dengan singkat cerita, jadi nggak kebayang kalau di tulis...

Aghhh.. Sungguh sangat takut memulai menulisnya,,,,
Kepala keluarga di keluarga ini entah bagaimana menceritakannya susah menyimpulkannya, utamanya susah untuk membuat kata-kata terbaik dalam mendiskripsikannya. Dia menurut pandangan saya orang yang ramah pernah saya berpapasan dia menyapa saya dengan senyum dan menanyakan kemana tujuan saya pergi (suatu kebiasaan warga bahkan keharusan kalau untuk saya ketika kita berpapasan ataukah lewat di depan rumah tetangga ).
Aku harus benar-benar minta maaf untuk menulis ini, Dia si bapak ini terkenal keras, dan banyak yang bilang dia membeda-bedakan perhatiannya kepada anaknya saya tidak akan menceritakan bagaimana pembeda-bedaannya dan mengapa, saya juga tidak akan menuliskan siapa yang salah karena bahkan dari cerita yang saya dengar saya takut untuk menyimpulkannya. Dia memiliki 6 orang anak mereka semua sudah berkeluarga. Ada salah satu anaknya yang bahkan ( maaf...) diusir dari rumahnya beberapa tahun yang lalu yang dulunya tinggal dibawah rumah ayahnya kini ia pindah di rumah bibinya, kata orang dari masa mudanya anak ini memang kurang disayang kalau dibandingkan dengan  saudaranya yang lain, selain dari ayahnya dia juga bercekcok dan tidak disukai oleh saudara-saudaranya,. Selain si anak ini, masih banyak percekcokan diantara saudara-saudaranya saya tidak akan menulis alasan-alasan percekcokannya. Mulanya ada beberapa yang tinggal bersama orang tuanya namun entah lah mereka satu persatu meninggalkan rumah ayahnya ini, pikir saja yang terbaik karena mereka sudah berkeluarga. Akhir – akhir ini orang ini sakit parah, sebenarnya penyakitnya ini sudah lama katanya akibat mendulang emas di perantauannya dulu. Beberapa bulan terakhir ini dia bahkan hanya bisa terbaring lemas, pernah kami menjenguknya waktu dia dioperasi kebetulan di makassar keaddaannya tidak bisa saya deskripsikan namun dia terlihat tegar dengan senyum yang ada di wajahnya, dia bersama istrinya yang setia. Beeberapa minggu ia di rawat dokter angkat tangan akan penyakitnya jadi dia dipulangkan di rumahnya. Pernah saya lewat di rumahnya setelah pemulangannya saya hanya bisa tersenyum dengan kepedihan membandingkan keadaan rumah ini di masa kecil saya, masih saya ingat satu kata yang bisa saya ungkapkan dengan ingatan saya kala itu adalah “rame”. Gambar yang teringat dalam memori saya di kolam terbukanya salah satu anaknya mencuci sekali-kali menoleh untuk menanggapi pernyataan-pertanyaan saudaranya yang da di belakangnya lagi menggendong anaknya,  anaknya yang lain ada di teras rumah bercanda tawa menina bobokan anaknya, ada yang dibawah kolong rumah (rata-rata rumah di kampungku adalah rumah panggung). Sekarang  rumah ini terlihat tak berpenghuni walau sia ayah ini bersama istrinya yang setia ada di dalamnya. Katanya anak-anaknya sesekali saja bahkan ada yang tak pernah sekalipun datang menjenguknya.....

HhHaaaa....
Hari ini kep[ala keluarganya berpulang ke Rahmatullah, dalam hal ini saya takut bercerita, takut apa yang saya ceritakan adalah aib orang yang sudah meninggal ya.. ALLAH maafkan aku,,, hanya saja kisah ini pelajarannya sangat penting bagi saya kadang saya juga mengalami percekcokan dengan saudara saya tapi terima kasih ALLAH, ENGKAU selalu mempersatukan kami kembali. Sebnarnya intinya belum say ceritakan, inti ceritanya harusnya pada kematian bapak ini pagi ini namun aku tak sanggup, aku terlau takut untuk menulisnya sampai di titik ini aku berfikir pa ini hal yang baik kurasa tulisan ini sejenak harus saya simpan, saking banyaknya berfikir menuliskan kata demi kata yang terbaik untuk dituliskan kepala bahkan punggung saya sakit...

Ya ALLAH maafkan lah hamba-MU ini jika ini hal yang tidak baik...
Untuk keluarga ini terutama untuk bapak aku memohon maaf menulis tentang kisah anda maafkanlah saya sebesar-besarnya saya hanya ingin ini menjadi pelajaran bagi kami semua,,,
Maaf jika menyakiti hati kalian dan saya doakan setulusnya sejujurnya dari lubuk hati saya yang terdalam semoga jiwa anda diterima disisi-NYAdan dibukakan pintu surga...
Ah.... aku menetesekan air mata selalunya itu kelemahanku


No comments:

Post a Comment