Atom

Saturday, October 6, 2012

PRAKTIKUM VII SUSPENSION I


BAB I
PENDAHULUAN


I.1 Latar Belakang
            Larutan ialah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut, kecuali dinyatakan lain sebagai pelarut digunakan air suling.Pernyataan kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat atau 1 ml zat cair tersebut larut dalam sejumlah ml pelarut
            Kelarutan suatu zat harus selalu diketahui sebelum zat tersebut dilarutkan dengan sejumlah pelarut, untuk menjamin jumlah pelarut yang diberikan itu cukup untuk melarutkan.
Read More
            Misalnya bila zat A itu mudha larut dalam air, maka dibutuhkan minimal 1 – 10 ml air untuk melarutkan setiap 1 g zat tersebut sehingga bila zat yang akan dilarutkan sejumlah 2 gram maka sekurang- kurangnya 2-20 ml air yang diperlukan untuk melarutkan zat tersebut
            Melarutkan zat sebaiknya dilakukan didalam erlemyer (terlebih lagi bila zatnya mudah menguap harus dengan erlenmeyer bertutup) kecuali bila dibutuhkan pengadukan dan atau untuk mereaksikan suatu zat maka dapat dilakukan di beaker gelas atau lumpang.
            Untuk larutan  sebelum dimasukkan kedalam wadah maka perlu disaring dengan penyaring kertas , namun bila zatnya oksidator maka dapat digunakan glass woll sebagai penyaring.
Namun, adakalnya terdapat obat yang tidak bisa larut dalam pelarut manapun. Untuk membuat sediaan bentuk larutan pada obat-obat seperti ini dalam pembuatan seediaan bentuk larutan kita kenal dengan istilah suspensi, sediaan bentuk larutan bagi obatyang tidak dapat larut tetapi hanya menghambat atau memperlamabat terjadinya endapan bahan aktifnya. Dalam pembuatannya ada aturan-aturannya tertentu yang berbeda dari sediaan solutio lainnya. Oleh karena itu perlu kita kietahui cara pembuatannya dan seperti apa suspensi itu.

I.2  Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari percobaan diatas adalah untuk mengetahui suspensions dan pembuatan suspensi
I.3 Rumusan Percobaan
a. apa yang dimaksud dengan suspensi ?
b. bagaimana pembuatan suspense ?





























BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


II.1 Teori Dasar
Suspensions
            Suspensei adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawaannya
            Zat terdispersi harus halus dan tidak boleh cepat mengendap. Jika dikocok perlahan-lahan endapan harus segera terdispersi.
            Sediaan konvensional biasanya menggunakan pulvis gummosus (PGS) sebagai bahan pensuspensi untuk obat dalam. Kadar PGS sebagai pensuspensi disesuaikan dengansifat bahan yang akan disuspensi
1.      Untuk obat yang berkhasiat keras disuspensi dengan 2% PGS dari jumlah cairan yang dibuat
2.      Untuk obat yang tidak berkhasiat keras disuspensi dengan 1 % PGS dari jumlah cairan yang dibuat
Jumlah air yang digunakan untuk mensuspensi PGS adalah 7 kali dari berat PGS
Misalnya
R/ doveri         200 mg (bahan yang tidak larut dan merupakan obat keras)
    Antalgin      1000 mg
    Air               ad 100 ml
    m.f.suspensi
   S.t.dd.Cth.I

Perhitungan bahan
Doveri                         = 200 mg
PGS                             = 2% x 100 ml = 2 g
Air untuk suspensi      = 7 x 2g           = 14 g (14ml)
Antalgin                      = 1000 mg
Air                               = ad 100 ml

Cara pembuatan
Doveri terlebih dahulu digerus dengan PGS lalu ditambahkan air 7 x berat PGS (14ml) sekaligus, diaduk hingga membentuk massa suspensi yang baik lalu dimasukkan ke dalam botol tanpa disaring

II.2 Uraian Bahan

Resep 7.1

1.      NR                  = Bismuthi subcarbonas
NL                   = Bismut Subkarbonat
Pemerian         = serbuk; putih atau putih kekuningan; tidak berbau; tidak  
                         berasa
Kelarutan        = praktis tidak larut dalam air, dalam etanol (95%) P dan dalam
                          pelarut organic netral; sangat mudah larut dalam asam klorida
                           P dan dalam asam nitrat P disertai terjadinya gelembung gas.
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat            = adstringen saluran pencernaa, antasidum

2.      NR                  = Natrii carbonas
NL                   = natrium karbonat
Pemerian         = hablur tidak berwarna atau serbuk hablur putih
Kelarutan        = mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = zat tambahan; keratolitikum

Resep 7.2

1.      NR                  = Chloramphenicolum
NL                   = kloramfenikol
Pemerian         = hablur halus berbentuk jarum atau lempeng memanjang;
                           putih kelabu atau putih kekuningan; tidak berbau; rasa agak
                           pahit. Dalam larutan asam lemah, Mantap.
Kelarutan        = larut dalam lebih kurang 400 bagian air, dalam 2,6 bagian
                           etanol (95%) P dan dalam 7 bagian propilenglikol P; sukar
                           larut dalam kloroform Pdan dalam eter P
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat            = antibiotikum

2.      NR                  = Propylenglycolum
NL                   = Propilenglikol
Pemerian         = cairan kental, jernih, tidak berwarna; tidak berbau; rasa agak
                           manis; higroskopik
Kelarutan        = dapat campur denga air, dengan etanol (95%) P dan dengan
                           kloroform P; larut dalam 6 bagian eter P; tidak dapat campur
                          dengan eter minyak tanah Pdan dengan
                           minyak lemak
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = zat tambahan; pelarut






3.      NR                  = Natrii Carboxymethylcellulosum
NL                   = Natrium karboksimetilselulosa
Pemerian         = serbuk atau butiran; putih atau putih kuning gading; tidak
                           berbau atau hampir tidak berbau; higroskopik
Kelarutan        = mudah mendispersi dalam air, membentuk suspense koloidal;
                           tidak larut dalam etanol (95%) P, dalam eter Pdan dalam
                           pelarut organic lain
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup rapat
Khasiat            = zat tambahan

4.      NR                  = Polysorbatum-80
NL                   = polisorbat-80
Pemerian         = cairan kental seperti minyak; jernih, kuning; bau asam
                           lemah, khas
Kelarutan        = mudah larut dalam etanol (95%) P, dalam etil asetat P dan
                           dalam methanol P, sukar larut dalam paraffin cair P dan
                           dalam minyak biji kapas P
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = zat tambahan

5.      NR                  =  Sirupus Simplex
NL                   =  sirop gula
Pemerian         =  cairan jernih ; tidak berwarna
Penyimpanan   =  dalam wadah tertutup rapat ; ditempat sejuk

6.      NR                  =  Aqua destillata
NL                   =  Air suling
Pemerian         =  cairan jernih ; tidak berwarna ; tidak berbau ; tidak
                          mempunyai rasa
Penyimpanan   =  dalam wadah tertutup baik
Resep 7.3

1.      NR                  = Prednisonum compressi
NL                   = tablet Prednison
Pemerian         = mengandung prednison tidak kurang dari 90,0% dan tidak
                            lebih dari 110,0% dari jumlah yang tertera pada etiket
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = adrenoglukokortikoidum

2.      NR                  = Chlorpheniramini maleas
NL                   = Klorfeniramini maleat
Pemerian         = serbuk hablur; putih; tidak berbau; rasa pahit
Kelarutan        = larut dalam 4 bagian air, dalam 10 bagian etanol (95%) P dan
                        dalam 10 bagian kloroform P; sukar larut dalam eter P
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat            = antihistaminikum
DM                  = sehari 40mg

3.      NR                  = Ephedrini Hydrochloridum
NL                   = Efedrina Hidroklorida
Pemerian         = hablur putih atau serbuk putih halus; tidak berbau; rasa pahit
Kelarutan        = larut dalam lebih kurang 4 bagian air, dalam lebih kurang 14
                        bagian etanol (95%) P; praktis tidak larut dalam eter P
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik. Terlindung dari cahaya
Khasiat            = simpatomimetikum
DM                  = sekali 50 mg; sehari 150 mg



4.      NR                  = Acetaminophenum  
NL                   = Asetaminofen; parasetamol
Pemerian         = hablur atau serbuk hablur putih; tidak berbau; rasa pahit
Kelarutan        = larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%) P,
                        dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol Pdan
                        dalam 9 bagian propilenglikol P; larut dalam larutan alkali
                         hidroksida
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya
Khasiat            = analgetikum; antipiretikum

Resep 7.4

1.      NR                  = Acidum Benzoicum
NL                   = Asam Benzoat
Pemerian         = hablur halus dan ringan; tidak berwarna; tidak berbau
Kelarutan        = larut dalam lebih kurang 350 bagian air, dalam lebih kurang
                        3 bagian etanol (95%) P, dalam 8 bagian kloroform P dan
                        dalam 3 bagian eter P.
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = antiseptikum ekstern; antijamur

2.      NR                  = Acidum salicycum
NL                   = Asam salisilat
Pemerian         = hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih;
                         hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam
Kelarutan        = larut dalam 550 bagian air dan 4 bagian etanol (95%) P;
                           mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P; larut dalam
                        larutan ammonium asetat P, dinatrium hidrogenfosfat P, k
                       alium sitrat P dan natrium sitrat P
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = keratolitikum, antifungi

3.      Lanolin (adeps lanae 75% + aquades 25%)
NR                  = Adeps Lanae
NL                   = Lemak bulu domba
Pemerian         = zat serupa lemak, liat, lengket; kuning muda atau kuning
                         pucat, agak tembus cahaya; bau lemah dan khas
Kelarutan        = praktis tidak larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol
                           (95%) P; mudah larut dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya di tempat
Khasiat            = zat tambahan

4.      NR                  =  Aqua destillata
NL                   =  Air suling
Pemerian         =  cairan jernih ; tidak berwarna ; tidak berbau ; tidak
                         mempunyai rasa
Penyimpanan   =  dalam wadah tertutup baik

5.      NR                  = Vaselin flavum
NL                   = vaselin kuning
Pemerian         = massa lunak, lengket, bening, kuning muda sampai kuning;
                           sifat ini tetap setelah zat dileburkan dan dibiarkan hingga d
                           ingin tanpa diaduk. Berfluoresensi lemah, juga jika dicairkan;
                        tidak berbau; hampir tidak berasa
Kelarutan        = praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) P; larut
                           dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam minyak tanah P,
                        larutan kadang-kadang beropalesensi lemah
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = zat tambahan
6.      NR                  = Balsamun peruvianum
NL                   = Balsem peru
Pemerian         = cairan kental, lengket, tidak berserat, coklat tua, dalam
                         lapisan tipis berwarna coklat, transparan kemerahan; bau
                         aromatic khas meneyrupai vanillin
Kelarutan        = larut dalam kloroform, sukar larut dalam eter, dalam eter
                        minyak tanah, dan dalam asam asetat glacial
Penyimpanan   = dalam wadah tertutup baik
Khasiat            = antiseptikum ekstrem




















II.3 Farmakologi Obat
1.      Bismuthi subnitrat
Indikasi : ulkus peptik. (ISO Indonesia)
Natrii Carbonas
Indikasi : gastritis akut dan kronishiperasiditas lambung, nyeri lambung sakit ulu hati, mual muntahmulut bau akibat pencernaan kurang baik,tukak lambung dan usus.
2.      Suspensi kloramfenikol
Indikasi : tifus, paratifus dan infeksiyang disebabkan oleh salmonella spp. H influenza, riketsia, limfo grnuloma psikosis, gram negatif yang menyebabkan meningitis
Kontra indikasi : hipersensitif terhadap kloramfenikol, gangguan faal hati. (ISO Indonesia)
3.      Prednison, CTM tab, Ephedrin HCl, Parasetamol
Prednison
Indikasimenghilangkan gejala penyakit remati, asma, oedema, radang usus
Perhatian : jangan diberikan pada pendderita sakit jiwa,TBC Herpes simpleks, tukak lambung, jantung, ginjal, tekanan darah tinggi. Penggunaan terus menerus pada anak-anak dapat mempengaruhi pertumbuhan. Pada penggunaan jangka panjang hindari penghentian pemberian secara tiba-tiba. Hati-hati bila diberikan pada penderita infeksi fungsi sistemik, herpes simpleks pada mata dan tuberklosis.
Efek samping : gangguan elektrolit pada cairan tubuh hingga terjadi hipoglacimea. Hiotensi kadang-kadang terjadi hipertensi, sakit kepala ,mual, muntah, depresi, bingung, mata kabur,tidak bisa tidurr dan menjadi lebih parahnya penyakit..
Kontra indikasi : penderita dengan penyakit jiwa, TBC, diabetes, jantung, ginjal, tekanan darah tinggi, herpes simpleks, tukak lambung. (ISO Indonesia)

Efedrin HCl
Menurut FI.III Efedrini HCL berkhasiat untuk simpatomimetikum yang efeknya menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan syaraf. Efedrin digunakan untuk reaksi alergi yang memerlukan terapi jangka panjang seperti pada hey fever yang berlangsung selama beberapa bulan. Efedrin merupakan Alkoloid yang terdapat dalam tumbuhan yg disebut efedra atau ma huang. Bahan herbal yang mengandung efedrin telah digunakan di Cina selama 2000 tahun dan sejak puluhan tahun merupakan komponen obat herbal Cina untuk klaim misalnya obat pelangsing, obat penyegar atau obat pelepas napas. (Farmakologi & Terapi V)
CTM
COROMETON     Coronet Crown    K
Klorfeniramini msleat 4mg/tablet. Indikasi : uritkaria, gagal dermatitis, rinitis verigo, mual, mabuk kendaraan, angloedum, asma serta batuk alergi lai. Efek samping ; rasa kantuk, lemah , pusinbg, mual, muntah, sakit kepala,penglihatan kabur, rasa kering pada mulutb, kurang nafsu makan. (ISO Indonesia)
Parasetamol
Menurut FI.III Asetaminofen berkhasiat sebagai analgetikum antipiretikum

ASETAMINOFEN 120mg/5ml sirop.
Indikasi : menurunkan panas dan menghilangkan nyeri pada keluhan-keluhan sakit gigi, sakit kepala, demam, influenza, neuralgia, nyeri otot dan sendi. (ISO indonesia)
Efek samping. Reaksi alergi terhadap derivat para-amino fenoljarang terjadi. Manifestasinya berupa demam dan lesi pada mukosa. (Farmakologi & Terapi V)
4.      Unguentum Witfield
Indikasi : panu, kadas, kurap, kutu air, bisul-bisul kecil, jerawat, eksim karrena jamur

BAB III
METODE KERJA


III. 1 Alat Dan Bahan
      III.1.a. alat yang digunakan
§  Lumpang dan alu
§  Pipet tetes
§  Sendok tanduk
§  Penggorek
§  Gelas ukur  100 ml
§  Labu erlemenyer
      III.1.b. bahan yang digunakan
§  Bismuthi subnitrat
§  Natrii Carbonas
§  Aq.menthae pip
§  PGS
§  Aqua destilata
§  Chloramfenikol
§  Propilenglikol
§  Carbocy methycellysalum natrium
§  Polysorbatum
§  Sir.simplex
§  Prednison
§  CTM
§  Ephedrin HCl
§  Paracetamol
§  As. Salisilat
§  As. Benzoate
§  Lanolin
§  Vaselin Flavum
§  Adeps lanae
III.2 Cara Kerja
Resep 7.1


R∕

     Bismuthi subnitrat     2
     Natrii Carbonas        2
     Aq. Menthae pip ad  100 ml
     m.f.potio
     S.q.dd.Cth II
Nama     : YuliBudiman yunus
Umur      :
Alamat    :
Folded Corner: R∕
  Bismuthi subnitrat  2
  Natrii Carbonas 2
  Aq. Menthae pip ad  100 ml
  m.f.potio
  S.q.dd.Cth II
Nama  : YuliBudiman yunus
Umur :
Alamat :
           Perhitungan Bahan :
1.      Bismuthi subnitrat   = 2 gram x  = 1 gram  
2.      Natrii carbonas          = 2 gram x  = 1 gram
3.      Aq.menthae pip ad100 ml  = 100ml x  =50
4.      PGS 1 %                      = 1     x  = 500 mg  
5.      Air untuk suspense       =   7 gram x   = 3,5 ml
Cara Kerja :
1.      Ukur air 38 ml
2.      Timbang Na2CO3, larutkan dengan aqua 10 ml disaring dalam botol
3.      Ditimbang PGS, bismuthi subnitrat, gerus dalam lumpang, ditambahkan air untuk PGS, dimasukkan dalam botol. Bilas dengan air, masukkan dalam botol lalu tambahkan 2 tts ol. Menthae pip
4.      Cukup dengan aqua m.pip ad 30 ml



                                                

Folded Corner: R∕
 Suspensi Kloramfenikol  s.f da 60 ml 
 S. tdd Cth I
 
Nama  : Aji
Umur :
Alamat :
Resep 7.2

R∕

  Suspensi Kloramfenikol          
 s.f da 60 ml
  S. tdd Cth I
 
Nama     : Aji
Umur      :
Alamat    :
                                                                      SUSPENSI KLORAMFENIKOL
                                                            KOMPOSISI : TIAP 5 ML MENGANDUNG
1.      Chloramfenikol                             125 mg
2.      Propilenglikol                                1 gram
3.      Carboxy methycellysalum natrium           50 mg
4.      Polysorbatum 80                           25 mg
5.      Sirupus simplex                             1,5 gram
6.      Aquadest                                       5 ml


Perhitungan Bahan
1.      Chloramphenicolum                      =     x 125 mg = 1500 mg = 1,5 gram x 1,74 = 2,61 gram
2.      Propylenglicolum                           =   x 1 gram = 12 gram             
3.      Carboxy methylcellysolum natrium=   x 50 mg = 600 mg
4.      Polysorbatum 80                              =   x 25 mg      = 300 mg
5.      SIrupus simplex                               =   x 1,5 gr = 18 gram 
6.      Aqua dest                                          =   x 5 ml  = 60 ml
Cara kerja
1.      Dikalibrasi botol volume 60 ml
2.      Ditimbang carboxy methyl cellysolum 600 mg dimasukkan ke dalam lumpang air mendidih 20x(12 ml) , digerus ad homogen. Keluarkan
3.      Ditambahkan chloramphenicolum ke dalam lumpang, digerus ditambahkan propylenglicol, polysorbat digerus homogen, ditambahkan natrium CMC . lalu digerus hingga terbentuk suspensi.
4.      Diencerkan dengan sir.simplex, lalu dituangkan kedalam botol.
5.      Dicukupkan dengan aqua destilata ad 60 ml. ditutup
6.      Diberi etiket putih dan label “ kocok dahulu “
Folded Corner: R∕
  Prednison tab
  CTM  aa I tab
  Ephedrin HCL  ½ tab
  Parasetamol  II
  m.f.pulv dtd NO X
  S.t.dd Pulv I
Nama  : Dilla
Umur : 17 tahun
Alamat :
Resep 7.3 
R∕
      Prednison tab
      CTM                             aa  I tab
      Ephedrin HCL                    ½ tab
      Parasetamol                        II
      m.f.pulv dtd NO X
      S.t.dd Pulv I
Nama     : Dilla
Umur      : 17 tahun
Alamat    :                                                        Perhitungab Bahan :
1.      Prednison tab   = 10 x 1 tab = 10 tab
2.      CTM                 = 10 x 1 tab = 10 tab
3.      Ephedrin HCl   = 10 x ½ tab = 5 tab
4.      Paracetamol      = 10 x II tab  = 20 tab
       
           Perhitungan DM

1.               CTM 
Untuk umur 17 tahun =  =   
Untuk resep :    1xp   = 1 x 4 mg = 4 mg
            Dd        = 3 x 4 mg = 12 mg
            %          =  x 100 % = 35 % < 100 %



2.                  Prednison Tab  
Untuk umur 17 tahun             =
Untuk resep :             1xp      = 1 x 5 mg = 5 mg
                                   Dd        = 3 x 5 mg = 15 mg
                                   %          =  x 100 % = 17 % < 100 %





3.                  Ephedrin HCl  
Untuk umur 17 tahun =
Untuk resep :          1xp          =  1 x 12,5 mg = 12,5 mg < 42,5 mg
                                %             =  x 100 % = 29 % < 100 % 
                                Dd           =  3 x 12,5 mg = 37,5 mg < 127,5 mg
                                %             =  x 100 % = 29,4 %
Cara kerja :
1.      Diambil prednisone tab, di gerus halus keluarkan
2.      Diambil CTM, digerus halus keluarkan
3.      Diambil ephedrine HCl, digerus halus keluarkan
4.      Diambil paracetamol, digerus halus keluarkan
5.      Dimasukkan bahan obat tadi digerus ad homgen
6.      Dikeluarkan lalu diayak dan dihomogenkan kembali
7.      Dibagi menjadi 10 bungkus, dimasukkan dalam sal obat dan diberi etiket putih.




                                              





R∕
     Peru balsam             0,5 %
     Ungentum witfiled s.f. 20 g
           m.f.ungt
           S.U.E
Nama     : Aji
Umur      :
Alamat    :Folded Corner: R∕
  Peru balsam 0,5 %
  Ungentum witfiled s.f. 20 g
  m.f.ungt
  S.U.E
Nama  : Aji
Umur :
Alamat :
Resep 7.4

                                                                            PERUB BALSEM
                                                                        URGENTUM WITFIELD
                                                            TIAP 10 GRAM MENGANDUNG :
1.      As. Salisilat                       500 mg
2.      As. Benzoate         500 mg
3.      Lanolin                  4,5 gram
4.      Vaselin Flavum     ad 10 gram





Perhitungan Bahan :
1.      Perubalsem          =  x 20 = 0,1     
2.      As. Salisilat          =  x 500 =  = 0,5 gram = 500 mg
3.      As. Benzoat         =  x 500 =   = 0,5 gram = 500 mg
4.      Lanolin 4,5 gram =  x 4,5  = 9                      adeps lanae =  x 9 = 6,75 / 2 = 3,375       
                                                                     Air suling             =  x 9 = 2,25 / 2 = 1,125
5.      Vaselin flavum    =  x 10 = 20 – ( 1 +1 + 9 ) = 9 gram / 2 = 4,5


Cara kerja :
1.      Dibuat lanolin
ü  Dimasukkan adeps lanae 3,75 gram
ü  Ditambahkan 1,125 gram air suling
ü  Diaduk sampai berwarna putih, keluarkan
2.      Dimasukkan asam salisilat dan asam benzoate, dilarutkan dengan etanol 96 % di gerus ad larut
3.      Ditambahkan lanolin agar dapat mengikat alcohol berlebihan
4.      Dimasukkan perubalsem lalu digerus
5.      Dimasukkan vaselin , gerus ad homogen
6.      Kemas wadah dan beri etiket biru

























BAB IV

PEMBAHASAN

           
            Pada R / VII.1 Bismuthi subnitrat harus disuspensikan dengan PGS (pensuspensi) terlebih dahulu sebelum diencerkan dengan pelarutnya karena bismuthi subnitrat merupajkan bahn obat yang tidak dapat larut, diman PGS yang digunskan adalah 1 % karena bismuthi subnitrat bukanlah obat yang berkhasiat keras dan diencerkan dengan pelarut (dalam hal ini AQ. Menthae pip.) Sebanyak 7 x nya. Satu yang perlu diperhatikan adalah bahan yang disuspensi tidak boleh disaring masuk ke wadah karena bahan yang disuspensi tidaklah larut sehingga jika disaring  maka obat tersebut akan mengendap di kertas saring sama saja obat yang dibuat tidak ada gunanya (zat aktif obat tidak ada lagi).
            Pada suspensi kloramfenikol tidak lagi ditambahkan PGS karena sudah ada polysorbatum (tween - 80) yang bertindak sebagai bahan pensuspensi.












BAB V
PENUTUP


V. 1 Kesimpulan
Ø  Suspensei adalah sediaan yang mengandung bahan obat padat dalam bentuk halus dan tidak larut, terdispersi dalam cairan pembawaannya
Ø  Cara membuat suspensi pada umunya yaitu dengan menmbahkan / menggerus bahan pensuspensi pada obat yang tidak dapat larut , lalu dilarutkan dengan air 7 x berat pensuspensi.

V.2 Saran
Ø  Dalam pengerjaan obat harus sesteril mungkin karena bisa mempengaruhi kestabilan suatu obat.